- Prinsip keadilan dan pembalasan yang setimpal memang perlu, tetapi tidak memberi kita ruang dan hak sedikitpun untuk melakukan balas dendam dan main hakim sendiri.
- Mengasihi adalah konsep memaafkan dan tanpa pembalasan. “... Menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” sebenarnya mengingatkan dua hal, pertama tidak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan (Rm. 12:21). Kedua bahwa balas dendam hanya akan mendatangkan kebencian lainnya.
Epistel Minggu Septuagesima, 16 Februari 2025 (Kolose 1:24-29).
- Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai pengharapan, maka di dalam pengharapan itu akan mengalir sukacita yang berpangkal dari hati. Ada keiklasan, ketenangan, kendatipun kesulitan sedang mengancam di depan mata sebagaimana yang Paulus rasakan. Pengharapan di dalam Tuhan selalu membuahkan sukacita.
- Pekerjaan untuk menjadi saksi Kristus dengan cara memberitakan Injil kebenaran adalah tugas yang sulit. Paulus sendiri sampai dipenjara dan dianiaya karena itu. Akan tetapi, betapapun sulitnya, jangan pernah tinggalkan imanmu dan tugasmu sebagai orang percaya. Tetaplah setia berpengharapan kepada Allah.
- Pengharapan akan Tuhan selalu membuahkan perubahan. Kita perhatikan, jikalau ada di antara saudara kita sedang menyimpang dan salah perbuatannya, di sinilah peranan pengajaran, yakni untuk menuntun dia kembali kepada kebenaran (2 Tim. 3:16). Inilah pengharapan kita, bahwa firman Tuhan itu selalu menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik kita dalam kebenaran.
- Tetaplah jadikan Allah sebagai pengharapan dalam kehidupan kita. Sebab di dalam pengharapan tidak hanya melahirkan sukacita dan ketenangan, tetapi juga kekuatan sebab di dalam Tuhan kita yakin akan dimampukan menghadapi setiap persoalan.
- Tuhan pantas dijadikan sebagai pengharapan dalam kehidupan kita, sebab Dia Allah yang senantiasa bekerja di dalam kehidupan kita. Dia tidak pernah meninggalkan umat-Nya sendirian. Sebaliknya, Allah turut bekerja dalam segala situasi untuk mendatangkan kebaikan (Rm. 8:28), untuk menguatkan, memperlengkapi, meneguhkan (1 Ptr. 5:10). (DKHL)
Evangelium Minggu 4 Set. Epiphanias, 2 Februari 2025 (Mazmur 71:1-6)
Evangelium Minggu 4 Set. Epiphanias, 2 Februari 2025
Ev : Mazmur/Psalmen 71:1-6
TUHAN ADALAH BUKIT BATU DAN PERTAHANAN KITA
JAHOWA DO PARTANOBATOAN JALA HAPORUSANTA
Pendahuluan
Perikop kali ini adalah doa permohonan Daud yang digubahnya ketika sudah berusia senja. Daud adalah salah satu tokoh Alkitab yang hidupnya sarat akan pergumulan dan pengkhianatan. Tidak tanggung-tanggung bagaimana Daud sering sekali mengalami pergumulan yang begitu tragis dan itu dicatatkan dalam Alkitab. Akan tetapi, di sisi lain, Daud merupakan salah satu tokoh Alkitab yang dikasihi oleh Allah. Tuhan begitu banyak memberikan pertolongan dalam kehidupan Daud di setiap situasi dan keadaan. Itulah mengapa banyak orang yang akhirnya merasakan iri hati, kecemburuan, terhadap apa yang Daud peroleh dalam kehidupannya. Sekarang, di masa tuanya, Daud menyadari bahwa dirinya semakin rentan dan melemah. Sangat wajar bagi Daud merasa gelisah dan ketakutan mengingat setiap pengkhianatan, permusuhan, peperangan yang telah ia lalui. Pertanyaannya, bagaimana mungkin Daud yang merasakan kegelisahan itu akhirnya mendapatkan ketenangan? Mazmur ini menjadi jawabannya. Daud menyadari bahwa hidupnya tidak akan pernah lepas dari pergumulan dan kesesakan. Di dalam kesadaran inilah Daud mengambil satu langkah yang penting: Yaitu menentukan bersama siapakah ia harus melewati pergumulan dan kesesakan itu? Inilah inti khotbah minggu ini. Sebagaimana Daud yang telah mengambil komitmen, kita diajak untuk turut juga mengambil komitmen yang sama. Hidup penuh dengan pergumulan itu sudah pasti. Pertanyaannya; “Siapakah temanmu menghadapi pergumulan itu?” Firman Tuhan memberikan satu jawaban pasti melalui tema kita, Tuhan yang adalah bukit batu dan pertahanan bagi kita. Bersama Dia-lah kita harus selalu berjalan menapaki tiap-tiap perjalanan hidup yang penuh kesesakan.
Penjelasan Nas
Tuhan adalah gunung batu dan pertahanan kita. Ini menggambarkan bagaimana Allah mampu memberikan rasa aman, kepastian, dan keselamatan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Lalu bagaimanakah ciri hidup seseorang yang telah menjadikan Tuhan sebagai gunung batu dan pertahanan baginya? Dari Daud kita pelajari 3 hal:
Pertama: Mengakui kelemahan diri. Permohonan Daud dalam ayat 1-6 sangat jelas, agar dirinya tidak mendapat malu, dilepaskan dari musuh-musuhnya, dan dijauhkan dari orang fasik. Mazmur 71 secara keseluruhan memberikan alasan mengapa Daud meminta hal ini kepada Tuhan. Daud secara jujur mengakui kelemahan dirinya di masa tuanya, bahwa kekuatannya telah jauh berkurang dan menjadi terbatas jikalau Allah tidak bersamanya. Jikalau kita juga boleh jujur, tidak satupun di antara orang percaya yang mampu melewati setiap persoalan jikalau hanya mengandalkan kekuatan, kepintaran, kekayaan, kekuasaan diri sendiri. Itulah mengapa orang yang benar-benar mengimani bahwa Tuhan adalah gunung batu dan pertahanan baginya, pertama-tama akan dengan rendah hati mengakui keterbatasannya.
Kedua: Berpasrah diri. Mindset/pola pikir akan menentukan keputusan atau tindakan yang kita ambil. Itulah yang perlu kita perhatikan dari doa Daud ini. Alih-alih berfokus terhadap permasalahan dan musuhnya, Daud jauh lebih kuatir dan ketakutan jikalau Allah meninggalkannya. Pengakuannya atas kelemahan dirinya (mindset) akhirnya mendorongnya untuk berserah dan berpasrah diri kepada Tuhan (tindakan). Mari kita perhatikan, dengan mengetahui dan mengakui kelemahan serta keterbatasan diri, kita akan terdorong agar dengan rendah hati meminta tolong.
Ketiga: Senantiasa memuji Tuhan. Pujian yang tulus kepada Tuhan selalu berasal dari pikiran yang jujur dan sikap rendah hati. Itulah mengapa ciri/tanda ketiga yang dapat kita lihat dalam diri Daud adalah dirinya yang senantiasa memuji Tuhan. Kita perhatikan, dalam pujian ini Daud mengingat kembali bagaimana Allah menyertainya. Sedari kandungan dan kemudian dia lahir (ay. 6), saat masa mudanya (ay. 5), hingga masa tuanya, bagi Daud Tuhan tetaplah setia. Tuhan tidak pernah berubah dan meninggalkan dirinya. Inilah yang membuat Daud akhirnya berkomitmen teguh untuk senantiasa memuji dan memuliakan Tuhan. Firman Tuhan ini juga akhirnya mengajak kita agar kembali mengingat bagaimana Allah senantiasa turut bekerja dalam perjalanan hidup kita masing-masing.
Refleksi:
Tidak ada manusia yang menginginkan agar dirinya hidup dalam kesusahan. Itulah mengapa selagi masih hidup dan memiliki kekuatan, kita selalu berusaha sekuat tenaga untuk mengejar apa yang kita impikan. Dalam proses perjuangan itu, Firman Tuhan mengajak kita merenungkan kembali agar membawa harapan itu kepada Tuhan yang adalah gunung batu dan pertahanan kita. Untuk itu, sebagai orang percaya, Firman Tuhan mengajarkan kepada kita, mari kita akui keterbatasan kita dalam mengusahakan apa yang perlu di tengah-tengah keluarga, pekerjaan, hubungan, persekutuan. Setelah kita mau dengan rendah hati mengakuinya, mari Datang kepada-Nya memohon hikmat dan kekuatan agar dalam prosesnya kita dimampukan. (DKHL)
Epistel Minggu 25. Set Trinitatis (17 November 2024) : Ep. 1 Samuel 2:1-10; Tema: ORANG YANG BERTAHAN SAMPAI AKHIR AKAN SELAMAT
Epistel
Minggu 25. Set Trinitatis (17 November 2024)
Ep : 1 Samuel 2:1-10
ORANG
YANG BERTAHAN SAMPAI AKHIR AKAN SELAMAT
PENDAHULUAN
Tidaklah salah jika dikatakan bahwa
hidup ini adalah perjuangan sebab memang kita hidup di tengah dunia yang penuh
dengan tantangan dan kesulitan. Ada kalanya kita merasa tertekan, lelah, atau
bahkan kehilangan harapan. Kesesakan dan himpitan memang dapat datang dari mana
saja. Kesulitan dalam relasi, tekanan pekerjaan, beratnya situasi ekonomi,
beban pikiran akan kebutuhan hidup dan masa depan, dan masih banyak lagi hal
yang kita kuatirkan. Akan tetapi, firman Tuhan hendak meneguhkan kembali
pengharapan kita, bahwa orang yang bertahan sampai akhir akan selamat. Ia yang
mau tetap setia berpengharapan kepada Tuhan, tetap teguh dalam iman dan
pengharapan, pasti akan dimenangkan. Untuk itu, kita diajak belajar dari satu
sosok bernama Hana. Perikop ini adalah nyanyian syukurnya terhadap jawaban atas
penantian besarnya. Pada akhirnya, Allah melihat, mendengar, dan menjawab
permohonan Hana. Penyerahan diri, penantian, doa, ratap tangis, dan air matanya
berakhir dengan kebahagiaan sebab Tuhan menyatakan pertolongan-Nya bagi
kehidupan Hana.
Latarbelakang dari nyanyian kemenangan Hana ini adalah penantian akan berkat keturunan. Situasinya cukup sulit. Elkana memiliki dua isteri yaitu Hana dan Penina. Berbanding terbalik dengan Hana, Penina dikaruniai anak. Hal ini membuat Penina sering sekali menyakiti hati Hana. Meskipun Elkana juga mengasihi Hana, tetap saja perlakuannya cukup berbeda terhadapnya dibandingkan Penina. Selain itu, di dalam pemahaman pada masa itu, kemandulan adalah sesuatu yang sangat tabu dan dianggap sebagai suatu kutukan murka Tuhan. Dalam situasi inilah Hana bergelut dalam doa dan harapannya.
PENJELASAN
NAS
Dalam terang tema “Orang yang
Bertahan sampai Akhir akan Selamat”, kita diajak untuk merenungkan beberapa
poin dalam perikop ini:
1.
Hana
yang Bertahan dalam Doa dan Kesabaran
Perikop dimulai dengan doa syukur Hana setelah Tuhan menjawab doanya untuk memberikan seorang anak laki-laki, yaitu Samuel. Sebelumnya, Hana menghadapi penantian yang panjang, bahkan cemoohan dari istri Elkana yang lain, yaitu Penina. Meskipun Hana sangat ingin memiliki anak, ia tidak pernah menyerah pada situasi atau kemarahan hati. Ia tetap berdoa dengan tekun, dan Tuhan mendengarkan doa-Nya. Hana menggambarkan seorang yang bertahan dalam iman, meskipun tantangan datang begitu berat. Kadang-kadang kita pun berada dalam situasi yang terasa sangat sulit, seolah doa kita tidak dijawab, atau impian kita tidak terwujud. Namun, Hana mengajarkan kita bahwa bertahan dalam doa dan kesabaran adalah kunci untuk melihat pertolongan Tuhan. Firman Tuhan dalam Yakobus 5:7-8 mengingatkan kita, "Bersabarlah sampai kedatangan Tuhan… Hendaklah hati kamu teguh, karena kedatangan Tuhan sudah dekat." Kita dipanggil untuk bertahan dalam harapan, karena Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.
2.
Puji
Syukur Hana kepada Tuhan
Ketika Hana akhirnya menerima jawaban dari
Tuhan, ia menyatakan pujian dan syukur kepada Tuhan. Dalam doanya, ia
mengatakan, "Hatiku bersukaria
karena TUHAN, tanduk kekuatanku ditinggikan oleh TUHAN; mulutku mencemoohkan
musuhku, sebab aku bersukacita karena pertolongan-Mu" (1 Sam. 2:1).
Pujian Hana adalah ungkapan dari hati yang penuh dengan pengakuan akan kebaikan
Tuhan. Ia menyadari bahwa segala sesuatu yang ia terima adalah anugerah dari
Tuhan yang setia. Sama seperti Hana, kita juga dipanggil untuk memuji Tuhan
dalam segala keadaan, baik ketika kita dalam suka maupun dalam duka. Rasul
Paulus dalam Filipi 4:4 menasihatkan kita, "Bersukacitalah selalu dalam
Tuhan; sekali lagi kukatakan: bersukacitalah!" Pujian dan syukur adalah
bentuk ketahanan iman kita, yang menunjukkan bahwa kita tetap percaya pada
kuasa dan kebesaran Tuhan, meskipun kita sedang menghadapi kesulitan.
3.
Kebenaran
tentang Tuhan yang Menjaga Orang-Orang yang Bertahan
Di dalam doa syukur Hana, ia juga
mengungkapkan keyakinannya bahwa Tuhan adalah Hakim yang adil dan Tuhan yang
menjaga orang-orang yang setia. Dalam 1 Samuel 2:6-8, Hana menyatakan, "Tuhan membunuh dan memberi hidup, Tuhan
menurunkan ke dunia orang mati dan membangkitkan orang hidup, Tuhan yang
memberi kemiskinan dan kekayaan, Tuhan yang menanggalkan dan mengenakan
kekuatan." Ini adalah pengakuan akan kuasa Tuhan yang mutlak, yang
memegang kendali atas segala sesuatu. Tuhan
tidak hanya memberi berkat, tetapi juga menyertai umat-Nya melalui proses yang
terkadang berat. Di saat kita merasa gagal atau jatuh, kita harus ingat
bahwa Tuhan membentuk kita melalui setiap pengalaman. Orang yang bertahan dalam
iman akan melihat Tuhan bekerja di tengah-tengah penderitaan dan berkat-Nya
akan nyata pada waktu yang tepat. Hana mengajarkan kita bahwa Tuhan adalah
sumber pengharapan yang tak pernah mengecewakan.
4.
Perjuangan
yang Membawa Keselamatan
Di bagian akhir doa Hana, ia mengingatkan kita bahwa Tuhan akan membela orang-orang yang lemah dan mengangkat mereka yang tertekan. 1 Samuel 2:9 mengatakan, "Orang-orang yang hidup benar akan diberikan kekuatan dan kesetiaan oleh Tuhan." Mereka yang bertahan dalam iman dan terus mempercayai Tuhan adalah orang-orang yang akhirnya akan diselamatkan. Keselamatan yang Tuhan janjikan bukan hanya untuk kehidupan setelah mati, tetapi juga untuk kehidupan sehari-hari. Setiap hari, kita diperkuat dan dijaga oleh Tuhan, meskipun tantangan hidup tak selalu mudah. Setiap orang yang bertahan dalam iman, yang tidak menyerah pada dunia dan pencobaan, akan mengalami kemenangan dan keselamatan yang dari Tuhan.
REFLEKSI/KESIMPULAN
Firman Tuhan hari ini mengajak
kita untuk meneladani Hana yang bertahan dalam doa, puji syukur, dan
keyakinan kepada Tuhan. Sama seperti Hana, kita juga dihadapkan pada berbagai
tantangan dalam hidup, namun Tuhan memanggil kita untuk bertahan dalam iman.
Mungkin kita tidak selalu melihat hasil yang kita harapkan, tetapi kita dapat
yakin bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita. Dia yang setia akan
menyertai kita sampai akhir. Marilah kita terus bertahan, bersabar, dan tetap
berharap pada Tuhan. Ingatlah bahwa orang yang bertahan sampai akhir akan
diselamatkan. Jangan biarkan apapun menggoyahkan iman kita, karena Tuhan yang
kita sembah adalah Tuhan yang setia dan akan membawa kita pada keselamatan-Nya.
Epistel Minggu 23. Set Trinitatis (03 November 2024) Ep : Ulangan 6:1-9 MENGASIHI TUHAN ALLAH DAN SESAMA MANUSIA
Epistel Minggu 23. Set Trinitatis (03 November 2024)
Ep : Ulangan 6:1-9
MENGASIHI TUHAN ALLAH DAN SESAMA MANUSIA
PENDAHULUAN
Bagi orang Israel kuno, fungsi utama dari kitab Ulangan
adalah sebagai pendidikan agama. Selama beberapa generasi, kitab ini berada di
tangan para Lewi yang menyanyikannya dengan tujuan mengajarkan kepada umat apa
yang Tuhan inginkan kepada mereka. Musa
sebagai pengajar utama menuliskan ini semua. Tujuannya jelas yaitu untuk
menanamkan “Takut akan TUHAN, Allahmu”. Ayat 1-3 dalam pasal ini merupakan
sebuah jembatan penghubung untuk menyimpulkan bagian besar dari pengajaran
kesepuluh hukum Taurat (4:44-6:3) dan memperkenalkan bagian penting lainnya
(6:4-7:11), yang disebut Yesus sebagai “Hukum yang utama dan terutama” (bnd.
Mat. 22:37-38). Pertama, Musa memberikan penjelasan pembuka bahwa ini merupakan
perinah Allah yang harus dilakukan. Tujuannya agar kebenaran ini dapat
diturunkan kepada anak cucu sehingga sepanjang generasi bangsa Israel tetap
takut akan TUHAN dan berpegang teguh pada perintah-Nya dengan setia. Allah
menyatakan berkat-Nya jika bangsa itu mau hidup dalam perintah dan ketetapan
Tuhan. Bangsa itu akan dalam keadaan yang baik dan menjadi sangat banyak.
Mengapa bangsa itu akan dalam keadaan baik? Kendatipun
negeri Kanaan adalah negeri yang berlimpah susu dan madunya, tetap saja
penghuni negeri itu adalah orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Orang Het,
Girgasi, Amori, Kanaan, Feris, Hewi, dan Yebus, adalah bangsa yang kuat dan
besar (7:1). Inilah yang harus dihadapi oleh orang Israel. Di sinilah Allah
berjanji akan menyerahkan bangsa ini kepada Israel jika mereka mau taat kepada
Tuhan. Kedua, ketujuh bangsa itu sudah memiliki kepercayaan dan dewa
tersendiri. Kalaupun bangsa Israel menang melawan mereka, tantangan terberat
berikutnya adalah godaan untuk menyembah allah lain dan meninggalkan Allah yang
benar. Untuk itu, Allah memerintahkan “Hukum Kasih/Hukum terutama dan yang
utama” ini sebagai pembatas bagi bangsa Israel ketika tiba saatnya mereka
menduduki tanah perjanjian itu.
PENJELASAN NAS
Di dalam terang tema “Mengasihi Tuhan Allah dan Sesama
Manusia”, kita akan merenungkan beberapa pokok penting:
1.
Mengasihi
dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan.
Shema Israel (6:4), “dengarlah hai Israel”, berisikan satu pengajaran yang fundamental, dan wajib diketahui seluruh orang Israel. Isinya menjadi kebenaran dasar agama Israel, yakni “keesaan” Tuhan dan “kewajiban” yang disusun berdasarkan Allah yang esa ini. Hal mendasar yang diajarkan itu adalah kasihilah TUHAN Allahmu dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatanmu (6:5). Apa maksudnya ini? Hati (Ibr. Lebab) dapat diartikan sebagai pusat tindakan pribadi, pikiran, kecerdasan, kesadaran, pemahaman. Dalam pemahaman timur tengah kuno, hati melambangkan individu dan keberadaannya. Hati digunakan sebagai istilah untuk semua aspek vital, afektif, noetic (pengetahuan, kognisi), dan volitif (kemampuan/kehendak untuk mengambil keputusan). Melalui terminology ini sudah sangat jelas, mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati menuntut seluruh aspek kehidupan kita. Mengasihi Tuhan Allah haruslah dibarengi dengan pengetahuan yang benar, berasal dari kehendak dan keputusan pribadi, dan memengaruhi aspek emosi manusia. Jiwa (Ibr. Nephes) dapat diartikan sebagai keinginan terbesar, niat, orientasi, dan penilaian terdalam dari diri manusia. Artinya mengasihi Allah ternyata bukan hanya tentang mengetahui dan memutuskan, tetapi juga menjadikannya sebagai niat, keinginan terbesar, dan orientasi hidup. Melalui penelusuran terminologis ini, pesan Musa terlihat begitu jelas. Ia mengajak bangsa Israel agar mereka mengambil keputusan berdasarkan kesadaran dan pengetahuannya untuk dengan sungguh beriman kepada Allah dan mengasihi-Nya. Iman dan kasih ini akan mempengaruhi moral dan perasaan mereka sehingga bangsa itu akhirnya menjadikan perintah Allah sebagai “gaya hidup orang beriman”.
2.
Mengasihi
itu adalah pelajaran berulang setiap hari.
Karena mengasihi Allah pada akhirnya harus menjadi gaya hidup dan orientasi hidup bangsa Israel, itulah alasan Musa memberikan perintah selanjutnya yakni konsistensi. Musa meminta agar bangsa itu mengajarkan kebenaran ini secara berulang kepada anak-anak mereka. Ketika mengajarkan, kita tidak hanya memberitahu tetapi juga sekaligus mengingat kembali kebenaran itu. Tindakan mengasihi harus senantiasa dibangun melalui perefleksian atas kebenaran. Artinya, kendatipun kita sudah menganggap “Mengasihi Allah dan sesama” adalah topik yang umum bukan berarti kita dapat abai. Musa sendiri memerintahkan agar firman Tuhan selalu dipercakapkan ketika duduk di rumah, dalam perjalanan, berbaring, ataupun bangun, bahkan menuliskan firman itu pada tiang pintu dan pintu gerbang. Firman Tuhan kali ini mengajak kita untuk tidak hanya sekedar tahu, melainkan menjadikan ini sebagai kebiasaan dan gaya hidup yang berkelanjutan. Inilah tandanya kita mengasihi Allah dengan segenap hati dan jiwa kita.
3.
Kasih
mengatur setiap gerak hidup.
Firman Tuhan ini menjadi landasan dan persiapan utama bagi bangsa Israel untuk hidup di tanah Kanaan. Kita perhatikan, hukum kasih ini pada akhirnya akan mengatur relasi kita terhadap Tuhan dan sesama. Kasih kepada Tuhan akan membawa kita kepada penghormatan dan penyembahan yang benar, pembaktian diri hanya kepada-Nya. Artinya, kasih itu mengikat kita. Sebagai contoh, implementasi kasih kepada Allah dan sesama akan terlihat pada pasal berikutnya. Allah melarang bangsa Israel menikah dengan bangsa lainnya agar tidak menyimpang dari-Nya (7:3-4), Allah menyuruh orang Israel untuk melawan kesalahan dan memperbaikinya (7:5-6). Kasih yang benar akan selalu mengarahkan kita pada kebenaran. Kasih bukan berarti bertoleransi terhadap kesalahan. Sebaliknya, kasih harus mengubahkan kita agar hidup menuju kebenaran yang sejati.
REFLEKSI/KESIMPULAN
Epistel Minggu 22. Set Trinitatis (27 Oktober 2024) Ep : Markus 10:46-52 TUHAN SANGGUP MELAKUKAN SEGALA SESUATU
Epistel Minggu 22. Set Trinitatis (27
Oktober 2024)
Ep : Markus 10:46-52
TUHAN SANGGUP MELAKUKAN SEGALA SESUATU
PENDAHULUAN
Dalam cerita ini kita akan diperkenalkan dengan satu tokoh
yaitu Bartimeus. Seorang yang buta, miskin, dan hidup dari belas kasihan orang
lain. Agak sulit rasanya bagi kita untuk mengakui bahwa Tuhan sanggup melakukan
segala sesuatu jika dalam kondisi seperti Bartimeus ini. Akan tetapi, kita akan
melihat sosok Bartimeus sebagai seorang pria yang memiliki keyakinan yang
sangat teguh bahwa suatu hari ia akan terbebas dari penderitaannya. Melihat
kondisinya, secara kasat mata sebenarnya mustahil bagi Bartimeus untuk
terpenuhi harapannya. Namun, kondisi itu tidak membuatnya patah semangat dan
putus pengharapan. Itulah mengapa begitu ia mendengar bahwa Yesus melintasi
kota Yeriko, Bartimeus sesegera mungkin berteriak memohon tanpa memikirkan
posisi dan jarak antara dirinya dengan Yesus. Teriakan Bartimeus menggambarkan
bahwa pengharapannya akan segera terlaksana meskipun ia tidak pernah melihat
Yesus secara langsung karena keterbatasannya. Sudah waktunya bagi Bartimeus
untuk bangkit dari ketidakberdayaannya. Pada akhirnya, imannya yang teguh itu
memberikan keselamatan baginya. Bartimeus mengalami kesembuhan. Tidak hanya
secara fisik, tetapi juga secara rohani. Kisah Bartimeus ini benar-benar
menggambarkan tema kita. Kendatipun di situasi sulit yang secara kasat mata itu
mustahil untuk diubah, tetapi bagi Allah, Dia sanggup melakukan segala sesuatu.
Akan tetapi, perlu kita garis bawahi bahwa segala sesuatu yang dimaksud
bertujuan untuk kebaikan dan kemuliaan nama Tuhan.
PENJELASAN NAS
Dalam terang tema Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu,
mari kita renungkan: perikop ini mengajarkan ada 4 respon yang harus kita
lakukan sebagai orang percaya:
1.
Senantiasa
Berseru kepada-Nya (ay.47-48).
Melihat situasi pada saat itu, kedatangan Yesus dibarengi dengan kerumunan orang yang mengelilingi Dia. Ternyata, nama Yesus cukup tersohor sehingga Dia menjadi buah bibir di kota itu. Mendengar cerita orang banyak itu bahwa Yesus tiba di Yeriko, Bartimeus bertindak dengan berseru kepada-Nya “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”. Ia memanggil Yesus dengan sebutan “Anak Daud”. Panggilan ini mengisyaratkan pengharapannya akan Mesias yang mampu menyelamatkan dirinya. Seruan Bartimeus penuh dengan keyakinan menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias yang berkuasa. Kita perhatikan, seruannya yang pertama harus dibungkam oleh orang banyak. Kerumunan itu melarangnya dan meminta untuk diam. Alih-alih tunduk pada bungkaman itu, Bartimeus justru berteriak semakin keras memohon belas kasihan Yesus. Pada akhirnya, Yesus mendengarkan teriakan itu. Inilah gambaran kehidupan orang percaya. Seruan yang kita sampaikan melalui doa kepada Tuhan sering sekali “dibungkam” oleh keadaan. Penantian yang panjang atas jawaban doa, desakan orang untuk meninggalkan Tuhan, situasi yang membuat kita ragu untuk berdoa adalah tantangan tersendiri bagi kita. Berkaca dari Bartimeus, kita akan melihat bahwa “Iman menuntun pada kesetiaan untuk memohon kepada Tuhan”. Kisah ini menegaskan bahwa jawaban doa memang penting, namun yang lebih utama adalah bagaimana iman membentuk kita untuk tetap berharap dan berdoa kepada Tuhan, meskipun kita harus melewati masa penantian.
2.
Tenang
dan teguhkan hatimu (ay. 49).
Kita perhatikan, Yesus yang menjawab seruan Bartimeus memberikan sebuah perubahan baru. Orang banyak yang semula melarangnya untuk berteriak berubah menjadi pendukung Bartimeus untuk datang kepada Yesus. Orang banyak meyakinkan Bartimeus dengan mengatakan “Kuatkan hatimu”. Dalam bahasa aslinya (Yun. Tharseo) dapat diartikan sebagai bersukacitalah, bersemangatlah, jadilah berani, terhiburlah. Orang banyak paham betul ketika Yesus memanggil berarti Bartimeus akan mengalami kesembuhan. Kita perhatikan, panggilan Tuhan atas seruan Bartimeus merupakan suatu dorongan yang luar biasa dalam membangkitkan pengaharapan. Inilah menjadi satu pegangan kuat bagi iman kita terhadap Allah yang sanggup melakukan segala sesuatu. Kendati di tengah permasalahan sekalipun, kita mengimani bahwa jawaban Tuhan selalu membawa penghiburan, sukacita, dan semangat baru.
3.
Datanglah
kepada-Nya (ay. 50-52).
Cerita Bartimeus memberikan satu kepastian kepada kita, bahwa Allah mendengarkan seruan kita. Panggilan Yesus membuatnya bergegas untuk pergi mendapatkan Dia. Akan tetapi, sebelum pergi Bartimeus terlebih dahulu menanggalkan jubahnya. Jubah adalah satu-satunya yang dimiliki oleh seorang pengemis. Biasanya itu digunakan untuk duduk atau mengumpulkan sedekah. Di tengah kondisinya, Bartimeus memang harus meninggalkan jubahnya sebab itu dapat menjadi penghambat dirinya bertemu dengan Tuhan. Jubah itu dapat memperlambat gerakannya, atau bahkan bisa membuatnya terjatuh karena tersandung. Setelah mendapat kesempatan berjumpa langsung dengan Yesus, Bartimeus memanggilnya dengan sebutan “Rabuni (rabi: guru)” sebagai ungkapan kerendahatiannya berjumpa dengan Sang Mesias. Sikap Bartimeus ini mencerminkan respon terbaik untuk datang kepada Tuhan. Hal-hal seperti keraguan, kesombongan, harus kita buang saat datang kepada Yesus. Sebaliknya kita datang dengan sikap rendah hati dan berserah diri penuh di dalam doa dan permohonan kita. Allah yang sanggup melakukan segala sesuatu itu sedang mengundang kita datang memohon. Untuk itu, datanglah kepada-Nya (bnd. Mat. 11:28-30).
4.
Percaya dengan sungguh kepada-Nya (Ay. 52).
Bartimeus
mendapatkan kesembuhan dari Yesus. Seruannya membuahkan hasil yang manis. Apa
yang ia harapkan diberikan Yesus kepada dirinya. Matanya dipulihkan dan dapat
melihat kembali. Yesus mengatakan “imanmu
telah menyelamatkan engkau!”. Kebaikan yang Bartimeus peroleh adalah karena
imannya yang direspon dengan kuasa dan belas kasihan Tuhan. Kita perhatikan,
pertolongan yang paling menghibur adalah yang berasal dari iman kita. Secara
jasmani Bartimeus kembali dapat melihat dan tidak lagi membutuhkan orang lain
untuk membantunya. Ia sekarang dapat berjalan sendiri dengan penglihatannya
sendiri. Kesembuhan jasmani itu diikuti dengan kesembuhan rohani melalui keputusan
Bartimeus untuk mengikut Yesus. Inilah respon yang harus dimiliki oleh setiap
orang percaya. Tidak cukup bagi kita hanya sekedar memohon untuk mendapat
kesembuhan kepada Tuhan. Akan tetapi, penting sekali kita mengambil komitmen
untuk mengikuti Dia agar kita dapat memuliakan Tuhan.
REFLEKSI/KESIMPULAN
Firman Tuhan hari ini mengajak kita agar sungguh-sungguh mengimani Allah sanggup melakukan segala sesuatu. Meskipun situasi terasa seperti di luar kendali dan kekuatan kita, firman Tuhan mengajak agar kita datang kepada-Nya di dalam iman yang sungguh-sungguh. Kita juga diajak untuk selalu berseru kepada Tuhan sebab penantian akan jawaban Tuhan selalu membuahkan penghiburan, sukacita, dan semangat baru bagi kita.
Epistel Minggu 21. Set Trinitatis (20 Oktober 2024) Ep : Yosua 24:14-24 IBADAH YANG SEJATI
Epistel Minggu 21. Set Trinitatis (20
Oktober 2024)
Ep : Yosua 24:14-24
IBADAH YANG SEJATI
PENDAHULUAN
Tema
kita kali ini adalah “Ibadah yang Sejati”. Ibadah merupakan terjemahan dari
kata Ibrani abodah. Akar katanya
adalah abad atau ebed yang berarti budak. Ini menunjukkan suatu sikap ketaatan,
tunduk, hormat, dan ketergantungan yang sungguh. Ibadah pada dasarnya adalah
suatu perayaan kita kepada Allah sebagai yang dipuji dan disembah. Melalui
perayaan itu, kita diajak untuk menundukkan diri pada setiap aturan dan
kehendak Allah. Di dalamnya juga haruslah
diberikan persembahan sebagai kurban ucapan syukur (lih. Kel.23:15 Ul.
16:16-17, 26:1-2). Dari sini kita menyimpulkan bahwa ibadah itu adalah sebuah
keharusan karena kita mengikat diri untuk tunduk pada kehendak Allah. Dia
menghendaki agar kita menguduskan hari sabath (bnd. Hukum Taurat ke-IV, lih.
Kel. 20:8-11). Melalui ibadah, kita mengucap syukur kepada Allah yang
memelihara, menyertai, melawat umat-Nya.
Menelisik
dari latar belakangnya, Kitab Yosua menceritakan bagaimana bangsa Israel
melakukan penaklukan terhadap tanah Kanaan di bawah kepemimpinan Yosua. Mereka
pada akhirnya berhasil. Namun, keberhasilan bangsa itu diperhadapkan dengan
tantangan penyembahan berhala. Inilah mengapa pada akhir hidupnya, pidato
perpisahan Yosua mengingatkan dengan tegas dan sungguh-sungguh agar bangsa itu
melakukan ibadah yang benar dan sejati.
PENJELASAN NAS
Dalam terang tema “Ibadah yang sejati”, mari kita
merenungkan beberapa poin ini:
1.
Beribadahlah
kepada Tuhan dengan Tulus dan Setia.
Yosua menegaskan bahwa bangsa Israel haruslah beribadah kepada TUHAN. Sebab Tuhan telah menggenapi janji-janji-Nya, memberkati dan melindungi mereka sejak Abraham hingga mereka menduduki tanah perjanjian. Perintah Tuhan melalui Yosua sangat tegas. Hanya Tuhan saja yang boleh disembah, jangan ada allah lain. Sebab Allah itu pencemburu. Dia akan menghukum bangsa itu bila menyembah berhala (ay.19). Ibadah menuntut kita untuk tunduk dan setia hanya kepada Tuhan saja. Sebab, tidak mungkin seseorang tunduk terhadap dua tuan (Mat. 6:24). Lagipula, orang yang mendua hati, tidak akan tenang hidupnya (Yak. 1:8). Ibadah haruslah “tulus ikhlas” (Ibr. Tamim). Artinya, kita harus membaktikan diri seutuhnya dan penuh integritas hanya kepada Tuhan. Tidak cukup hanya secara ritus, tetapi juga dalam praktik hidup. Ibadah itu juga harus dilakukan dengan “setia” (Ibr. Emet). Artinya, ibadah harus dilakukan dengan berkelanjutan, konsisten, dan pasti hanya kepada Tuhan. Pada konteks masa kini, berhala tidak lagi hanya dalam bentuk beribadah kepada allah lain. Bahkan, ketika kita lebih mencintai harta, jabatan, kehormatan lebih daripada mencintai Tuhan, kita “memberhala” kan itu dalam hati kita.
2.
Ibadah
itu Keputusan dan Komitmen (ay.15, 19, 21, 22).
Yosua memastikan pilihan bangsa Israel berkali-kali. Yosua tampaknya meminta validasi secara langsung mengingat bangsa itu tegar tengkuk perilakunya (bnd. Kel. 32:9; Ul. 9:13). Yosua sangat takut bangsa itu jatuh ke dalam sinkritisme – yaitu campur baur agama dan kebudayaan – terhadap Kanaan, Amori, Moab, Amon (ay.15). Serentak bangsa itu memutuskan untuk berkomitmen beribadah kepada Tuhan yang benar (ay. 16, 21, 22, 24). Yosua telah terlebih dahulu memilih dan berkomitmen bahwa ia dan seisi rumahnya beribadah kepada Tuhan (ay. 15). Penegasan berulang yang dilakukan Yosua hendak mengingatkan kepada kita bahwa komitmen itu harus dibangun terus menerus, setiap hari. Tantangan hidup, pergumulan, kadang kala membuat kita menjadi lesu. Di sinilah konsistensi kita dibutuhkan. Benar bahwa Ibadah adalah keharusan. Sebab Allah sendiri yang mengundang kita beribadah kepada-Nya. Akan tetapi, ibadah juga adalah keputusan dan komitmen. Artinya, kita juga harus memberikan respon terhadap panggilan Tuhan itu. Senantiasalah bangun komitmen itu agar kita tetap setia dalam keputusan kita beribadah kepada Dia, Allah yang menyelamatkan kita.
3.
Ibadah
itu Kesadaran (ay.16-18).
Bangsa Israel memberikan respon terhadap Yosua yang mempertanyakan ulang komitmen dan keputusan mereka. Bangsa itu memilih untuk menjauhkan diri dari penyembahan berhala. Mereka bahkan memberikan alasan atas keputusan itu. Sebab, Allah senantiasa menuntun mereka, melakukan tanda mujizat, dan melindungi mereka. Ini adalah tanda bahwa bangsa Israel dengan kesadaran penuh memutuskan pilihan mereka. Akan tetapi, mari kita perhatikan. Ungkapan bangsa Israel inilah yang harus menjadi kesadaran dan motivasi kita dalam beribadah. Ibadah yang benar haruslah didasari pada motivasi yang benar. Bahwa kita beribadah bukan semata-mata untuk “membujuk” Tuhan memberkati. Sebaliknya, kita beribadah sebab kita menyadari Allah senantiasa memberkati kita.
REFLEKSI/KESIMPULAN
Melalui
firman Tuhan ini kita diajak untuk memahami “ibadah yang sejati”. Bahwa ibadah
yang sejati itu membawa kita kepada sikap tunduk, taat, dan setia kepada
kehendak-Nya. Bahwa ibadah sejati itu membuat kita semakin mencintai Tuhan dan
tidak akan mendua hati. Untuk itu penting bagi kita membangun ulang komitmen
secara terus-menerus kepada Tuhan. Pada akhirnya, Ibadah yang benar akan
membuahkan transformasi diri sebab ibadah tidak hanya tentang ritus dan
liturgi, melainkan teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Epistel Minggu 20. Set Trinitatis (13 Oktober 2024) Ep.: Habakuk 2:1-4 ORANG BENAR AKAN HIDUP OLEH PERCAYANYA
Epistel Minggu 20. Set Trinitatis (13 Oktober 2024)
Ep. : Habakuk 2:1-4
ORANG BENAR AKAN HIDUP OLEH PERCAYANYA
PENDAHULUAN
Tema kali
ini menjadi satu informasi bagi kita bahwa orang percaya hidup karena imannya.
Ini merupakan ungkapan popular dari kitab Habakuk yang dikutip 3 kali dalam
Perjanjian Baru, yaitu Roma 1:17, Galatia 3:11, Ibrani 10:38. Setidaknya, kita
dapat membagi tiga alur kitab ini. Pertama, Habakuk mengeluhkan kejahatan di
dalam negerinya serta bertanya mengapa Allah tidak melakukan sesuatu
menghentikan itu. Kedua, Allah menjawab bahwa Dia akan mengutus orang kasdim
(Babel) untuk menghukum Israel atas dosa-dosanya. Ketiga, respon Habakuk yaitu
ia memilih untuk tetap percaya kepada Tuhan. Imannya ini dinyatakan dengan
menulis sebuah nyanyian pujian kepada Tuhan. Dari alur ini, kita dapat melihat
bahwa tampaknya Habakuk berada di tengah-tengah situasi bangsa yang kacau
balau. Ia menjelaskan bahwa hukum telah kehilangan kekuatannya sebab keadilan
telah diputarbalikkan. Kekerasan, pertikaian, perdebatan marak terjadi.
Ternyata, kekuasaan dan keadilan telah disalahgunakan di antara sesama bangsa
sendiri. Kejahatan tidak pernah ditindak dan pelakunya tidak pernah diadili.
Sebaliknya, orang benar akan disalahkan dan yang jahat akan dibenarkan. Kesukaran
ini akhirnya turut menimpa orang-orang yang setia hidup dalam imannya. Hati
Habakuk semakin hancur ketika Allah justru memilih jalan yang tidak sesuai
harapannya. Allah memberi nubuatan kepada Habakuk bahwa Dia akan memilih bangsa
Babel untuk menghukum bangsa Israel. Bertahan dalam suasana dan kondisi yang
menderita memang tidak mudah bagi siapapun. Waktu terasa begitu lambat
berjalan. Akan tetapi melalui seruan Habakuk, firman Tuhan kali ini hendak
mengajak kita agar dengan sungguh-sungguh memusatkan penantian kita hanya
kepada Allah. Habakuk mengajak kita untuk menjalani pergumulan itu bersama-sama
dengan Allah. Caranya adalah dengan membawa semua itu ke dalam doa memohon
pertolongan Allah bagi kita.
PENJELASAN NAS
Habakuk menyatakan orang benar akan hidup oleh percayanya
(2:4) di tengah-tengah situasi yang begitu sulit baginya. Kita akan renungkan
ada 3 alasan mengapa Habakuk menyatakan demikain:
Pertama, iman memberi kehidupan. Habakuk menggambarkan bahwa ada dua respons manusia terhadap
firman Allah. “Membusungkan dada”
berarti respons tinggi hati dan meremehkan firman Tuhan. Mereka tidak mau
mengakui firman Tuhan, tidak mau bergantung kepada-Nya, dan menganggap janji
Allah adalah sesuatu yang tidak berarti. Tetapi “orang benar” merespons firman Tuhan dengan penuh keyakinan akan
kebenarannya. Mereka akan tetap dekat dengan Allah dan menghidupi panggilannya
kendatipun di masa-masa sulit. Dalam konteks Habakuk, iman membuat orang
percaya hidup dalam relasi “kesetiaan” dengan Tuhan. Artinya, manusia harus
setia kepada janji Tuhan sebab Dia setia terhadap janji-Nya yang memberi
kehidupan. Kehidupan yang dimaksud oleh Habakuk di sini memang erat kaitannya
dengan perdamaian, kesejahteraan, dan keamanan bagi umat. Akan tetapi, pada
akhirnya Perjanjian Baru memberikan makna yang jauh lebih luas. Kehidupan yang
dimaksud bukan lagi hanya berbicara tentang jasmaniah tetapi juga spiritual.
Bahwa di dalam Kristus, kita akan memperoleh keselamatan dan kehidupan kekal
(Yoh. 3:16, 18). Sebab, iman yang merespons firman Tuhan dengan benar akan menghasilkan
buah (Gal.5:22-23); membawa kita kepada pengudusan dan pembenaran (Ibr. 10:10; Rm.
3:28; Ef. 2:8); dan membawa kita kepada keselamatan (Mrk.16:16; Rm.1:17; 2 Tim.
3:15).
Kedua, iman membuahkan pengharapan. Ungkapan “Aku mau
berdiri di tempat pengintaian … aku mau meninjau dan menantikan…” (ay. 1)
adalah gambaran kesungguhan Habakuk menanti jawaban Tuhan atas doa dan
permohonannya. Habakuk benar-benar dengan penuh kesabaran dan kesungguhan
menantikan itu bagaikan seorang penjaga keamanan yang penuh fokus dan
keseriusan. Penantiannya akhirnya dijawab oleh Tuhan dengan memberikan sebuah
perintah agar menuliskan penglihatan itu pada loh (ay. 2). Meskipun penglihatan
itu masih belum terjadi dan dinantikan, tetapi Allah menyatakan bahwa itu
sungguh-sungguh akan datang (ay.3). Habakuk merespon dengan menyatakan orang
benar akan hidup oleh percayanya (ay. 4). Menariknya kendatipun jawaban itu
masih membutuhkan penantian, Habakuk meresponnya dengan pujian kepada Allah.
Pujian yang berisi pengharapan yang pasti bahwa Allah akan menyelamatkan
umat-Nya (3:12). Begitulah iman yang sejati. Iman selalu membuahkan pengharapan
sebab iman adalah dasar dari segala
sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr.
11:1). Inilah yang membuat Habakuk tidak menjadi goyah hatinya. Sebab di dalam
iman, ada pengharapan yang meneguhkan bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan
apa yang telah Dia janjikan (bnd. Rm. 4:21).
Ketiga, iman meluruskan hati. Iman yang memberi kehidupan dan pengharapan akan selalu
menuntun kita kepada kebenaran. Mereka yang menolak firman Allah tidak akan
lurus hatinya. Sebaliknya, firman Tuhan akan meluruskan hati orang benar.
Olehnya, mereka mau melakukan kehendak Allah. Artinya, firman Tuhan selalu
membawa kita kepada pertobatan. Sebab firman Tuhan yang dituliskan itu
bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan
mendidik orang dalam kebenaran (bnd. 2 Tim. 3:16). Inilah yang dimaksud dengan
iman meluruskan hati (membawa pertobatan). Kendatipun
situasi sekitarnya tidak sesuai harapan dan pemahamannya, kadang kala rencana
Tuhan terasa tidak adil menurut manusia, Habakuk tetap memiliki harapan bahwa
pada akhirnya Allah menegakkan keadilan dan memulihkan umat-Nya Hati yang lurus
akan selalu mendorong kita untuk senantiasa memuji dan memuliakan Tuhan (3:17-18).
REFLEKSI/KESIMPULAN
Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk meneguhkan dalam hati bahwa orang benar hidup oleh iman. Habakuk, melalui pengalaman dan pujian yang dicatat dalam kitabnya, mengajarkan bahwa iman adalah landasan yang kokoh di tengah-tengah kesulitan dan ketidakpastian. Dalam situasi di mana keadilan tampak terbalik dan kejahatan tidak dihukum, iman memberikan kehidupan dengan menjaga hubungan setia dengan Allah. Iman juga membuahkan pengharapan yang kokoh, bahkan ketika jawaban atas doa tampak jauh atau belum terlihat jelas. Selain itu, iman meluruskan hati, membimbing untuk melakukan kehendak Allah, dan memberikan keyakinan bahwa pada akhirnya Allah akan menegakkan keadilan dan menyelamatkan umat-Nya. Dengan demikian, Habakuk mengajak untuk hidup dalam ketaatan dan pengharapan, sambil tetap memuji dan memuliakan Tuhan dalam segala keadaan.
Epistel Minggu 19. Set Trinitatis (06 Oktober 2024) Ep: Keluaran 4:10-17 SIAP SEDIA MEMBERITAKAN FIRMAN TUHAN
Epistel Minggu 19. Set
Trinitatis (06 Oktober 2024)
Ep : Keluaran 4:10-17
SIAP SEDIA MEMBERITAKAN FIRMAN TUHAN
PENDAHULUAN
Perikop ini merupakan lanjutan dari pemanggilan dan
pengutusan Allah kepada Musa untuk membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir.
Bangsa itu sedang berada dalam perbudakan. Orang-orang Israel akhirnya memohon
kepada Allah untuk membebaskan mereka. Rintihan bangsa itu didengarkan oleh
Tuhan. Dengan mengingat janji-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, Allah
memperhatikan dan memedulikan mereka. Itulah mengapa Allah memilih dan mengutus
Musa menghadap Firaun untuk membawa Israel keluar dari Mesir menuju tanah
Kanaan. Kalau kita melihat perjalanan hidup Musa, pemanggilan ini sebenarnya
terasa sangat sulit. Pertama, Musa diangkat menjadi anak oleh putri Firaun dan
dibesarkan dengan pendidikan dan kebiasaan istana kerajaan Mesir hingga ia
dewasa (2:10). Kedua, setelah dewasa, Musa menjadi pelarian karena telah
membunuh orang Mesir. Hatinya menjadi panas karena melihat orang Mesir memukul
seorang dari saudara sebangsanya. Karena kejadian ini, Firaun berupaya membunuh
Musa (2:11-13). Ketiga, saudara sebangsanya menolak keberadaan Musa (2:14).
Itulah mengapa ketika pemanggilannya, Musa memiliki keraguan yang begitu besar,
dan merasa tidak mampu melaksanakan tugas itu. Keraguan diri Musa ini tampak
dari jawaban dan pertanyaan yang diberikannya kepada Allah.
PENJELASAN NAS
Perikop kali ini akan kita gali dan renungkan dalam terang
tema “Siap Sedia Memberitakan Firman Tuhan”.
1.
Berat
mulut dan Berat Lidah.
Musa sangat berat untuk
mengemban tugas panggilan yang diberikan Allah kepadanya. Selain untuk
menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa Israel, ia juga harus siap berhadapan
dengan Firaun. Musa diberikan tugas sebagai pemimpin bagi bangsa itu, sekaligus
menjadi lawan bagi Firaun untuk membawa Israel keluar dari tanah Mesir. Dengan
memahami kondisi ini, Musa sebenarnya ingin menolak. Penolakan Musa
pertama-tama tampak dari keraguan dan ketakutan dirinya jikalau bangsa itu
menolak dirinya. Tidak cukup sampai di sana, dalam perikop ini Musa mencoba
menolak dengan memberitahukan kelemahan dirinya. Ia mengatakan “… aku tidak pandai berbicara,… aku berat
mulut dan berat lidah” (ay. 10). Dalam bahasa Ibrani dan bahasa kuno
lainnya, organ tubuh yang cacat sering sekali disebut dengan “berat” (Ibr. Kabed). Dalam bahasa
aslinya, dapat diterjemahkan bahwa Musa sebenarnya kesulitan dan terbata-bata
untuk mengucapkan kata-kata dengan lancar.
Keadaan Musa ini menjadi
gambaran bagi kita dalam memenuhi panggilan untuk memberitakan firman Tuhan.
Situasi sulit, penolakan, keterbatasan dan kelemahan, menjadi tantangan
tersendiri bagi kita. Itulah mengapa tema mengajak kita untuk bersiap sedia.
Alkitab sudah membuktikan, setiap orang yang dipanggil Tuhan pasti memiliki
kekurangannya tersendiri. Musa dengan keterbatasan fisik dan emosinya, Yosua
dengan ketakutan dan kekuatirannya, Paulus dengan duri dalam dagingnya, dan
masih banyak lagi. Menyadari adanya kelemahan dalam diri adalah sesuatu yang
baik. Akan tetapi, jikalau terlalu fokus pada kelemahan itu, potensi dan
kelebihan dalam diri ini bisa saja menjadi kita abaikan. Untuk itu, bersiap
sedialah.
2.
Pergilah,
Aku akan menyertai.
Musa sudah mengungkapkan
kelemahan dirinya. Tetapi jawaban Allah memberikan kelegaan. Pertama-tama, Allah
memberikan penegasan tentang kuasa dan otoritas-Nya kepada Musa. Bahwa Dia
adalah pencipta manusia, sehingga Dia berkuasa penuh atas manusia. Allah hendak
menegaskan bahwa keterbatasan fisik Musa bukanlah hal yang tak dapat Allah
atasi. Secara spesifik Allah mengatakan “Oleh
sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engaku, apa yang
harus kau katakan.” (ay. 12). Kita perhatikan, tugas dan panggilan yang
Allah nyatakan kepada umat-Nya, akan selalu dibarengi dengan penyertaan-Nya.
Jika kelemahan Musa ada pada lidahnya, maka Allah memberikan penyertaan dan
pemulihan terhadapnya.
Poin yang hendak ditegaskan di
sini, kesiapan dan kesediaan tidak akan pernah kita dapatkan jikalau hanya
mengandalkan kemampuan dan kepintaran diri sendiri. Dengan menyadari kelemahan
diri, kita hanya akan mampu bersiap sedia menunaikan tugas panggilan itu dengan
kasih dan penyertaan Tuhan. Pada dasarnya, kita harus benar-benar menyadari
bahwa “Tuhan yang utus, Tuhan yang urus”.
Meminjam istilah “ula-ula na matolpang”,
demikian lah kita sebagai perkakas yang tidak sempurna yang dipakai oleh Allah
untuk menyatakan firman-Nya. Ketika Allah menyatakan kepada Musa “Bukankah di situ Harun, orang Lewi itu
kakakmu? Aku tahu, bahwa ia pandai bicara…” (ay. 14), ini membuktikan bahwa
Allah memahami apa yang kita butuhkan. Penyertaan Allah akan selalu
memperlengkapi kita. Dia akan memberikan apa yang kita perlu, dan tidak akan
pernah meninggalkan kita. Penyertaan Tuhan akan memberikan kekuatan bagi kita
untuk melakukan kehendak-Nya.
REFLEKSI
Allah tidak hanya memanggil, tetapi juga menyertai dan memperlengkapi setiap orang yang dipanggil-Nya. Kita perlu mengakui keterbatasan kita, tetapi tidak boleh terfokus hanya pada kelemahan tersebut. Bersiaplah dengan kesediaan dan kesadaran bahwa Allah akan memberikan apa yang diperlukan untuk melaksanakan panggilan-Nya. Penyertaan-Nya memberi kekuatan bagi setiap langkah yang kita ambil dalam pelayanan-Nya. Dengan demikian, kita diajak untuk mempersiapkan hati dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, percaya bahwa dalam kelemahan kita, kuasa-Nya menjadi sempurna untuk melakukan kehendak-Nya. (DKHL)
